“Jangan terlalu cepat menilai, biarkan saja berjalan dulu. Kalaupun nantinya lebih banyak dampak negatifnya, kami sendiri yang akan menghentikan kegiatan itu,” ujarnya
Sementara itu Ketua RT 01 Kelurahan Lok Tuan Arifin menyatakan, sebelumnya warga di RTnya lebih banyak yang menolak rencana tersebut. Hal itu lantaran, masyarakat kurang tau mekanisme kerja kegiatan muat batu bara tersebut. Serta terlalu percaya pada stigma negatif yang dimunculkan dimedia sosial.
Kekhawatiran akan polusi debu yang sebelumnya menjadi alasan warga akhirnya hilang setelah pihak perusahaan datang mensosialisasikan mekanisme muat batu bara tersebut.
“Nanti kan ditutup terpal dan muatannya disiram. Jadi debu yang selama ini dikhawatirkan kemungkinannya kecil,” ujarnya
Diapun meminta kepada perusahaan terkait agar lebih gencar mensosialisakan mekanisme tersebut ke warga Lok Tuan. Khususnya yang bermukim di kampung Selambai.
“Kalau bisa perusahaan lebih gencar sosialisasi, agar masyarakat tidak salah paham. Toh kegiatan ini saya pikir banyak mendatangkan hal bermanfaat, jadi harusnya didukung,” pungkasnya
Salah seorang warga Kampung Selambai Nurdin, yang ditemui media ini pun juga mengungkapkan hal sama. Menurutnya kedatangan perusahaan baru di Lok Tuan akan membantu perekonomian ditengah pandemi seperti sekarang ini.
Sedikit dia menceritakan, selama pandemi Covid-19 di Bontang pendapatannya sebagai nelayan tangkap sangat menurun. Kedatangan perusahaan batu bara tersebut, dianggapnya sebagai angin segar yang bisa membantu perekonomianya kembali pulih.
“Susah sekali cari duit selama pandemi. Kehadiran perusahaan ini bisa membuat ekonomi kami kembali pulih setelah terpuruk selama 1 tahun terakhir,” pungkasnya.[rls/abe]

