“Jika memungkinkan, pola pembelajaran tatap muka bisa kita lakukan lebih dulu di sekolah yang terletak di pinggiran kampung seperti daerah berambai, loa bahu, Karena menurut Jaang resiko penularan Covid 19 dikawasan tersebut sangat rendah. Mengingat interaksi sosial para pelajarnya juga tidak seluas siswa yang tinggal diperkotaan belum lagi masalah perangkat teknologi untuk melakukan sekolah daring juga terbatas.”
“Jadi tidak menutup kemungkinan pola belajar tatap muka disekolah hanya bisa kita lakukan di Sekolah dikawasan luar kota Samarinda. Tetapi juga dengan mempertimbangan berbagai hal seperti protokol kesehatan sekolah dan tinggal gurunya dimana dulu, kalau di zona rawan kita rekomendasi untuk swab antigen dulu sebelum mengajar, “pintanya.
Intinya, sambung Walikota, keputusan bersama yang disimpulkan tadi dengan mengedepankan kesehatan dan keselamatan para pelajar di Samarinda. Menurutnya tidak ada kelompok umur yg paling aman terhadap penularan Covid-19. Apalagi hasil data Dinas Kesehatan samarinda menyatakan, ada sebanyak 480 kasus Covid 19 yang tertular pada usia anak 0-17 tahun, dari bulan Maret hingga Januari. [sri/iqb].
Foto: Istimewa

